Dewasa ini Sepakbola Eropa sangat terkenal di seluruh penjuru dunia, dan tentu saja dengan hingar binar liga champions nya yang setiap mid-week menemani pecinta sepakabola dimana pun berada. Tak mengelak, kualitas sepakbola Eropa masih menjadi yang nomer satu dan memiliki persaingan yang cukup ketat setiap pekannya. Tak jarang pecinta sepakbola di seluruh penjuru dunia menyukai keindahan tersebut, tak terkecuali di Indonesia. Pecinta sepakbola di Negri Ir. Soekarno ini sangat menyukai sepakbola Eropa, hingga mereka pun rela untuk membuat atau bergabung dengan pecinta sepakbola Eropa lainnya dalam ikatan supporter. Tak sedikit klub-klub Eropa memiliki basis Fans Klub yang cukup fantastis apabila dihitung dengan serius. Klub mana sih di Dunia ini, yang tak senang apabila memiliki jumlah fans yang tidak kalah jauh jumlahnya dengan fans yang ada di Negara klub tersebut berasal?.
Di salah satu sudut kabupaten Sleman, tepatnya di Babarsari ada seseorang yang telah mematahkan beberapa hal yang telah disebutkan seperti diatas. Steffen namanya, pria brewok keturunan asli Hamburg, Jerman ini sangat menyukai tim lokal Kabupaten Sleman yang berjuluk Super Elang Jawa. Steffen adalah mahasiswa dari Jerman yang sedang dalam program pertukaraan pelajar. Ia berkuliah di salah satu Universitas Khatolik ternama di Yogyakarta.
Awal mulanya hanya mengikuti ajakan salah satu temannya di kampus, Steffen mulai senantiasa mengawal dan mendukung PSS Sleman hingga ke delapan besar liga Divisi Utama musim lalu. Pertandingan demi pertandingan sangat ia nikmati. Mendukung tim lokal sangat ia sukai, apalagi atmosfer Stadion Maguwoharjo yang sangat istimewa bagi pria kebangsaan Jerman ini. Berdiri dan bernyanyi selama 90 menit, dan juga peraturan sederhana yang diterapkan kepada seluruh Sleman Fans untuk menghormati pemain sungguh membuat ia takjub dan ingin menjadi bagian dari itu.
Masih teringat jelas dibenak penulis ketika itu kami sudah membeli tiket dan bersiap-siap masuk ke Tribun. Steffen berucap dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata “ Teman, kamu harus memberi pelajaran tentang lagu yang akan kamu nyanyikan untuk PSS, kepada saya, saya harus mengerti, karena itu PENTING.” Jujur saja saat penulis mendengar permintaan Steffen, penulis merasa sedikit terharu. Jelas tidak ada paksaan untuk siapapun terlebih lagi orang luar negri untuk mendukung dan bernyanyi untuk PSS Sleman, apalagi menghapal beberapa Chants yang kebanyakan dalam Bahasa Indonesia. Disini terlihat jelas betapa pentingnya sebuah chants, tidak hanya untuk Pemain semata, tapi sama pentingnya untuk Supporter. Memberikan yang terbaik dari yang terbaik untuk PSS Sleman memang tidaklah mudah, namun bisa kita mulai secara sederhana melalui CHANTS.
Bentuk nyata dari totalitas Pria kebangsaan Jerman ini di luar 90 menit, cukup sederhana namun nyata adanya. Ia membeli langsung jersey PSS Sleman di PSS Strore dan juga beberapa Merchendise di Curva Sud Shop, dengan harapan ia mempunyai atribut sekaligus kenangan nyata di tangannya dan juga turut memberikan sumbangsih financial Super Elja. Sungguh pemikiran yang cemerlang dari orang asing yang telah jatuh cinta kepada PSS Sleman, dan uang bukan menjadi penghalang. Selama itu ada profit yang masuk ke tim kebanggaan kita, mengapa tidak?.
Tidak hanya di laga kandang saja ia ikut mengawal Super Elja, laga tandang pun ia ikuti demi tim yang baru saja membuatnya jatuh cinta. Semarang adalah kota yang menjadi saksi bagaimana ia mengawal PSS Sleman. Penulis masih ingat ketika hari itu ia bersikukuh untuk ikut dengan rombongan Sleman Fans via Truk, padahal penulis sudah mempersiapkan sebuah mobil sewaan, tapi solidaritas yang ia junjung tinggi telah menang ketimbang sebuah kenyamanaan pribadi, ia pun berangkat dengan truk bersama teman-teman Sleman Fans.
“Hi dude, this is wonderful, it’s just feel like i am freeman and i love this club with the craziest fan ever!” Teriak dengan sangat jelas dari pinggir atas truk, Steffen menjelaskan kepada penulis bagaimana ia bahagia pada saat itu. Bilamana beberapa Sleman Fans merasakan lela, letih, lemah, dan lesu saat harus mengawal PSS Sleman dengan menggunakan truk, Steffen justru merasakan sebaliknya, ia sangat menyukai hal ini. Maklum saja di Jerman mungkin tidak ada yang seperti ini.
Memasuki musim 2015 ini Steffen juga ikut mengawal seleksi pemain-pemain baru PSS Sleman. Ia cukup rajin datang ke Tridadi untuk melihat bagaimana kemampuan pemain-pemain baru PSS Sleman musim ini. Namun sayang ia harus segera kembali ke negara asalnya Jerman, untuk menyelesaikan studinya.?Apakah jarak menjadi masalah untuk Steffen tetap mengawal PSS Sleman? Tidak sama sekali! Karena ia selalu mendengar Elja Radio dan juga mengupdate berita-berita terbaru PSS sleman melalui web official pss-sleman.co.id. Apabila liga sudah dimulai, ia juga sudah siap untuk membeli voucher pertandingan melalui Elja TV. Jadi tidak ada masalah berarti bagi steffen untuk tetap mendukung PSS Sleman, walau terpisahkan oleh jarak dan waktu, Indonesia-Jerman. Jauh di mata, dekat di hati, begitulah kurang lebihnya yang ia rasakan saat ini.
Banyal hal yang bisa kita petik dari Steffen sang Bule Curva Sud ini, bagaimana ia mencintai klub dimana ia datang ke Negara ini dengan tujuan awal menjadi pelajar. Ia justru jatuh cinta kepada klub di kota ia menempuh studi jangka pendeknya. Sangat sederhana kisah Steffen, aku yakin di luar sana masih ada banyak lagi cerita-cerita tentang bagaimana sleman Fans lainnya mengawal PSS Sleman, klub yang kita lihat, kita dukung, dan kita BANGGAKAN!.
Kuliatas sepakbola Negri kita ini memang bukan yang paling baik, dan apabila dibandingkan dengan sepakbola Eropa sangatlah jauh tentunya. Namun sadarkah kalian? Kalau hal itu bukan menjadi suatu penghalang bagi Steffen sang Bule Curva Sud untuk mendukung tim lokal Kabupaten Sleman, yaitu PSS Sleman. Penulis juga yakin hal itu tidak saja berlaku kepada Steffen semata, namun juga berlaku untuk siapa saja. Janganlah mengeluh soal kualitas sepakbola Indonesia, kalau kalian masih asik duduk santai di depan layar kaca. Kualitas sepakbola Indonesia memang bukan yang terbaik dari yang terbaik, tapi sepakbola Indonesia bukanlah kualitas sepakbola paling buruk di muka bumi ini, dan itu adalah bukti nyata bahwa Indonesia akan bangkit dengan segeranya walau semua itu membutuhkan proses yang lama dan nyata dari seluruh elemen sepakbola Indonesia, dan Sleman sudah berproses.
ICH LIEBE DICH, PSS SLEMAN!
sumber : sleman football
